Suka Duka Anak Rantau

Published April 20, 2014 by syarifahfaqoth

8fc9ef6cf9560006d261c1d6a899c92c_eagle-national-geographic

Minna-san, kali ini saya ingin berbagi mengenai suka dan duka seorang anak yang jauh dari orang tua demi mengejar cita-cita. *jengreeeng
Iya, dari judulnya aja udah kayak sinetron yee 😀
Ini pengalaman asli saya sekitar 2 tahun lalu sampai sekarang. Ya, tinggal jauuuuh dari orangtua dengan alasan ngejar cita-cita, sekolah. Asik? Iya memang sebelum saya menjalani ini semua, yang ada dipikiran saya “wah, enak banget pasti. Lepas dari pengawasan orangtua, bisa ngelakuin apapun yg saya suka, tidur bebas jam berapa aja, bangun juga semau saya.”

Yah, seperti itulah pikiran saya waktu itu. Hingga saat itu tiba. Saat di mana saya mendapat pengumuman diterima di salah satu SMA favorit di Kota saya yang kebetulan jauh dari rumah tempat saya dan orangtua tinggal. Maka setelah waktu tahun ajaran baru semakin dekat, saya berangkat meninggalkan kampung halaman menuju tempat perantauan *sinetron banget.

Memang sebenarnya tempat tinggal baru saya saat itu bukanlah tempat yang asing. Itulah tempat tinggal ayah dan ibu saya sebelum akhirnya mereka pindah karena urusan pekerjaan. Di rumah itu juga saya sempat menjalani masa-masa bayi saya selama 9 bulan, dan akhirnya ikut dibawa pindah untuk kemudian tumbuh besar di sebuah desa. Dan akhirnya saya kembali ke tempat itu.
Masa-masa awal memang menyenangkan, soalnya :

1. Uang jajan mingguan
Yang biasanya uang jajan itu dikasih per-hari, pas mau berangkat sekolah sambil bilang “Mah, uang jajan.”
Tapi sekarang beda. Uang jajan yang istilahnya dibayar di muka dan lebih gede nominalnya dibanding saat kita tinggal bareng orangtua. Pikirnya seneng aja, gak ada yang ngontrol lagi pengeluaran kita.

2. Bisa main ke mana aja
Karena yang biasa jadi tahanan rumah saat SD dan SMP, yang biasanya harus ngeluarin rayuan maut mati-matian ke orangtua buat bisa main sama temen-temen, sekarang gak perlu lagi.

3. Bisa bergadang
Tentu bisa banget. Gak ada yang ngecek lagi kamar kita malem-malem buat mastiin kita udah tidur atau belum. Dan kita gak perlu pura-pura tidur ditutupin selimut seluruh badan padahal kita masih sibuk SMS-an atau Online di bawah selimut hihihi.

Dan sebenarnya masih banyak banget seasyikan-keasyikan saat menjadi anak rantau. Tapi, eeee tapi.. *tapi saya bundar (bukan) >.<
Iya tapi di balik kesenangan di atas, ternyata lebih banyak kesakitan dan penderitaan yang tersimpan *dramaqueen

1. Telat dapet uang mingguan
Hal yang paling mengerikan dalam kehidupan anak rantau adalah ini. Dompet udah tipis dan terus mengempis sampai hati terasa teriris dan akhirnya menangis tapi jangan sampai mengemissss Nooooo…
Hingga suatu kejadian, membuat saya tersadar betapa berharganya uang Rp. 200,- . "Cuma dua ratus perak.." Itu pikiran saya dulu. Tapi, ternyata saya salah. dua ratus itu sangat berharga ketika itu. Gini ceritanya..
Pagi itu saya mau berangkat sekolah. Dan malangnya uang mingguan telat dikirim, hingga uang yang tersisa hanya cukup untuk ongkos naik angkot berangkat dan pulang sekolah *maklum saat itu saya boros banget (sekarang udah tobat). Ngga sih, gak cukup sebenarnya. Saat itu uang saya kurang 500 rupiah. Saya cari di kantong-kantong kecil tas sekolah dan alhamdulillah ketemu uang recehan. Tapi, ternyata hanya 300 rupiah. Saya kebingungan nyari 200 rupiah lagi. Sudah saya cari ke sana ke mari. Di laci, bawah kursi, saku-saku baju dan celana, lemari buku, tempat pensil.. dan tetap ga ada sepeser pun. Padahal biasanya uang-uang koin itu sering saya lihat di sekitar saya, tapi saya acuhkan karena seperti tadilah pikiran saya, "cuma segitu, buat apa?" Tapi, setelah kejadian itu saya sadar. Sekecil apapun nominalnya, uang tetaplah uang. Berharga.

2. Sakit ga ada yang ngurusin
Salah satu faktor yang bikin kita sebagai anak yang jauh dari orang tua gampang sakit adalah pola makan dan tidur kita yang gak teratur. Mentang-mentang gak ada yang ngatur-ngatur lagi, makan seenaknya. Tidur seenaknya. Dan malang nya ketika sakit kita gak ada yang ngurusin, secara orang tua kita jauuuh, kawan. Itu menderita banget, asli. Cobain deh!

3. Sering kesiangan
Nah sama aja kyk yang di atas. Gara-gara tidur seenaknya dan gak ada yang bangunin, intensitas kesiangan kita makin menjadi.

4. Gak ada yang bantuin nyiapin keperluan kita
Kayak angka 1 deh pokoknya. Nyuci baju sendiri, nyuci piring sendiri, masak sendiri *dan kebanyak cuma masak mie instant sama telor ceplok, dan semuanya sendiri.

5. Disiksa Rindu
Ini dia puncaknya. Paling menyakitkan dan menyesakkan. Lebih sakit dan lebih nyesek dibanding jadi korban PHP atau gagal dapet arisan mingguan. Rindu orangtua, terutama mama (menurut saya). Bayangin lah, kita yang biasanya apa-apa mama, ini-itu mama, curhat ke mama, minta apapun ke mama.. Sekarang jauh, ya rindu banget. Melebihi rindu istrinya bang toyib sama bang toyib yg gak pulang-pulang -_-

Dan yaa masih sangat banyak lagi. Mungkin bisa kalian rasain sendiri setelah kalian suatu saat pergi merantau juga kyk saya dan bang toyib -___-
dan mungkin kalo mereka yang senasib sama saya bakalan nyengir baca postingan ini, heee *nyengir berjamaah.

Tapi, inilah hidup. Ada suka dan ada duka. Ini semua adalah bagian dari perjuangan untuk mendapatkan kebahagiaan suatu hari nanti. Kebahagiaan saat melihat orangtua tercinta menangis. Ya, menangis bahagia karena bangga melihat kita yang akhirnya bisa membuktikan bahwa kita mampu menjadi apa yang mereka mau, bahwa perjuangan mereka selama ini untuk kesuksesan anak-anaknya tidak sia-sia. *keprookkk dulu

Oke, saya cuma mau bilang sesuatu meskipun saya tahu orangtua saya gak bakalan baca postingan ini.
Mama, bapak, rindu ini selalu menyapa setiap detik. Semoga senantiasa sehat di sana ❤ Aamiin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: