Everlasting

Published April 26, 2014 by syarifahfaqoth

Saat kita sedang sendiri, kesepian, dalam masalah, membutuhkan teman, lantas teringat dengan seseorang, berharap banyak dia akan membantu, atau setidaknya mengusir sedikit gundah-gulana. Apakah itu disebut cinta? Tentu saja. Tetapi kalau demikian, bukankah cinta jadi tidak lebih dari seperangkat obat? Alat medis penyembuh? Selesai malasahnya, saat kita kembali semangat, sembuh, maka persis seperti botol-botol obat, seseorang itu bisa segera disingkirkan. Sementara, dong? Temporer? Juga tentu saja, kecuali kita selalu sakit berkepanjangan, dan mulai mengalami ketergantungan dengan seseorang tersebut. Jika demikian maka cinta jadi mirip nikotin, candu.

Saat kita ingin selalu bersamanya, selalu ingin didekatnya, selalu ingin melihat wajahnya, senyumnya, nyengirnya, bahkan gerakan tangan, gesture, bla-bl-bla. Ingin mendengar suaranya (meski suaranya fals), tawanya (walau tawanya cempreng); apakah itu disebut cinta? Tentu saja. Bagaimana mungkin bukan cinta? Tetapi kalau hanya demikian, maka bawakan saja imitasi seseorang itu ke rumah, taruh seperti koleksi patung, jika ingin mendengar tawanya, stel sedemikian rupa biar dia tertawa, ingin melihat dia bicara, stel agar dia bicara. Bukankah hari ini sudah banyak teknologi imitasi seperti ini? Apakah itu akan berlangsung sementara? Boleh jadi, karena persis seperti kolektor yang memiliki koleksi benda antik, seberapapun berharganya, cepat atau lambat rasa bosan akan tiba. Bisa sih disiasati dengan jarang-jarang melihat koleksi tersebut, jarang-jarang bertemu biar terus kangen dan rindu, aduh, kalau demikian, maka cinta jadi sesuatu yang kontradiktif, bukankah tadi dibilang ingin selalu bersamanya.

Saat kita terpesona melihatnya, kagum menatapnya, begitu hebat, keren, terlihat berbeda, cantik, gagah, dan bla-bla-bla. Apakah itu disebut cinta? Bisa jadi. Tapi jika demikian cinta tak lebih seperti pengidolaan, keterpesonaan. Jika demikian, solusinya mudah, pasang saja posternya besar-besar di kamar. Jika kangen, tatap sambil tersenyum. Taruh foto-fotonya di mana-mana. Selesai urusannya. Apakah ini sementara? Temporer? Tentu saja. Saat idola baru yang lebih keren tiba, saat sosok baru yang lebih hebat datang, maka idola lama akan tersingkirkan. Jika demikian, maka cinta tak ubahnya seperti lagu pop, cepat datang cepat pergi. Persis seperti anggota boyband di tahun 80-an, basi di tahun 90-an, dan anggota boyband di tahun 2012, dijamin basi banget di tahun 2030.

Saat kita tergila-gila, selalu ingat dengannya, tidak bisa tidur, tidak bisa makan, berpikir jangan-jangan kita kehilangan akal sehat, apakah itu disebut cinta? Tentu saja. Tapi jika demikian cinta, maka ia tak lebih dari simptom penyakit psikis? Sama persis seperti penjahat yang jadi buronan, juga tidak bisa tidur, susah makan, dan terkadang berpikir kenapa ia bisa kehilangan akal sehat menjadi penjahat. Sementara? Temporer? Tentu saja. Waktu selalu bisa mengubur seluruh kesedihan.

Hampir kebanyakan orang akan bilang: “Saya tidak pernah tahu kapan perasaan itu datang. Tiba-tiba sudah hadirlah ia di hati.” Ada sih yg jelas-jelas mengaku kalau dia cinta pada pandangan pertama; sekali lihat, langsung berdentum hatinya. Tapi di luar itu, meskipun benar-benar pada pandangan pertama, kita kebanyakan tidak tahu kapan detik, menit, jam, atau harinya kapan semua mulai bersemi. Semua tiba-tiba sudah terasa something happen in my heart.

Terlepas dari tidak tahunya kita kapan perasaan itu muncul, kabar baiknya kita semua hampir bisa menjelaskan muasal kenapanya. Ada yg jatuh cinta karena seseorang itu perhatian, seseorang itu cantik, seseorang itu dewasa, rasa kagum, membutuhkan, senang bersamanya, nyambung, senasib, dan seterusnya, dan seterusnya. Dan di antara definisi kenapa tersebut, ada yang segera tahu persis kalau itu sungguh cinta, ada juga yang berkutat begitu lama memilah-milah, mencoba mencari penjelasan yg akan membuatnya nyaman dan yakin, ada juga yang dalam situasi terus-menerus justeru tdk tahu atau tidak menyadarinya kalau semua itu cinta.

Cinta sungguh memiliki begitu banyak pintu untuk datang. Kebanyakan dari “mata”, mungkin 90%. Sisanya dari “telinga”. Dari bacaan (membaca sesuatu darinya), dari kebersamaan, dari cerita orang lain. Dari mana saja. Lantas otak akan mengolahnya, mendefinisikannya menjadi: sayang, kagum, terpesona, dekat, cantik, ganteng, cerdas, baik, lucu, dan seterusnya. Kemudian hati akan menjadi pabrik terakhir yang menentukan: “ya” atau “tidak”. Selesai? Tidak juga, masih ada ruang buat prinsip-prinsip, pemahaman hidup, pengalaman (diri sendiri atau belajar dari pengalaman orang lain) untuk menilai apakah akan menerima kesimpulan hati atau tidak.

Ini proses cinta kebanyakan. Tetapi orang-orang yang paham, maka pintu datangnya cinta bukan sekadar dari mata atau tampilan fisik saja. Proses mereka terbalik, mulai dari memiliki prinsip-prinsip, pemahaman-pemahaman yang baik, lantas hati dan otak akan mengolahnya, baru terakhir mata, telinga dan panca indera menjadi simbolisasi cinta tersebut.

Tetapi apapun pintu dan prosesnya, jika akhirnya semua fase itu terlewati masih ada satu hal penting lainnya yg menghadang. Yaitu kesementaraan. Temporer. Apakah cinta itu perasaan yang bersifat temporer? Kabar buruknya ya. Jangan berdebat soal ini. Sehebat apapun cinta kita, pasti takluk oleh waktu. Tapi kabar baiknya, meski ia bersifat sementara, kita selalu memiliki kesempatan untuk membuatnya ‘abadi’, everlasting. Bagaimana caranya? Dengan pemahaman-pemahaman yang baik. Ada rambu-rambu yang harus dipatuhi, ada nilai-nilai yang harus dihormati. Pasangan yang memiliki hal tersebut, mereka bisa menjadikan perasaan cinta utuh semuanya. Maka abadilah perasaan itu.

Terakhir, saat kita selalu termotivasi untuk terus berbuat baik hari demi hari, memberikan semangat positif, terus memperbaiki diri setiap kali mengingatnya, apakah itu juga disebut cinta? Yaps, inilah hakikat cinta. Saat perasaan itu menjadi energi kebaikan. Dan itu tidak berarti kita harus selalu menyampaikan kalimat itu. Orang-orang yang menyimpan perasaannya, menjaga kehormatan hatinya, dan menjadikan perasaan tersebut sebagai energi memperbaiki diri, maka cinta menjelma menjadi banyak kebaikan.

Apakah itu sementara? Memang sementara, nah, semangat untuk terus memperbaiki diri karena cinta tersebut akan menjadi jaminan keabadiannya. Percayalah, bagi orang-orang yang memiliki pemahaman yang baik, cinta selalu datang di saat yang tepat, momen yang tepat, dan orang yang tepat, semoga semua orang memiliki kesempatan merasakannya. (Darwis Tere Liye)

Iklan

Kelebihan Jurusan IPS

Published April 20, 2014 by syarifahfaqoth

IPS-Logo

Kalian pernah galau? Oke saya tau jawabannya pasti, semua manusia pernah ngalamin yang namanya galau. Dan begitupun dengan saya, ya pernah galau. Tapi saya senang, seengganya itu salah satu tanda kalo saya ini manusia tulen.

Hal yang paling bikin saya galau bukan gara-gara cinta, bukan gara-gara saya jadi korban PHP, bukan juga gara-gara nerima kenyataan kalo temen saya suka makan upil. Sama sekali bukan karena itu. Saya galau karena masalah yang amat sangat penting bagi kehidupan saya, jiwa dan raga saya, yaitu JURUSAN.

Ya waktu itu saya galau setengah pingsan waktu mau milih jurusan di SMA. Saya masuk IPA, IPS, atau Bahasa? Ya di sekolah saya sistem masuk jurusannya terserah kita. Bebas semau kita. Gak ada yang namanya yang pinter masuk IPA, yang kurang pinter masuk IPS, yang bagus berbahasa masuk jurusan Bahasa. Sama sekali gak begitu. Ini murni ngikutin kemauan kita, cita-cita kita, harapan kita, dan gak lupa keinginan ORANG TUA kita. Oh Nooooooo, I think that’s not good. Ini hidup kita, so what?
Tapi itulah kenyataannya, dalam hal ini orang tua seolah-olah jadi penentu. Ceritanya ada anak yang kepengin banget masuk jurusan IPS. Tapi orangtuanya gak setuju. Orangtuanya lebih milih anaknya masuk jurusan IPA. “Apa sih bagusnya IPS? Jelas-jelas IPA itu lebih bagus. Kamu bisa jadi dokter, kamu juga bisa jadi insinyur”. Ucapan orang tua yang kayak begini nih yang bikin anaknya naik level dari galau setengah pingsan jadi galau setengah mati.

Tapi setelah saya dikasih arahan-arahan dari BK, lalu saya berpikir keras, dan gak lupa bedo’a minta petunjuk (tapi saya gak pake yang namanya semedi seminggu di dalem gua). Akhirnya saya memutuskan buat masuk jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial alias IPS.

Kehidupan sebagai anak IPS sangat menyenangkan tapi juga ada hal yang bikin ini agak gak enak dijalanin.
Orang-orang di luar sana, mungkin termasuk kamu yang baca ini mungkin masih menganggap kalo kelas IPS itu kelas BUANGAN, kelas orang-orang kurang pinter. Dan emang itu yang sering saya denger. Halo, sekarang saya jelasin ya, betapa ajaibnya jurusan IPS. Karena …

1. Belajar Hal Yang Dinamis
Di Jurusan IPS kita belajar banyak hal yang dinamis atau gampang berubah. Sebuah statement yang keluar dari seseorang pada tahun 1999 ternyata bisa dipatahkan oleh orang lain pada tahun 2011 dengan alasan mengikuti perkembangan zaman. Nah, di kelas nanti biasanya ada perdebatan diantara siswa-siswa yang mempercayai kedua pendapat tersebut. Ilmu sosial itu ilmu yang mudah mengalami perubahan, di setiap perubahan tersebut akan timbul perdebatan-perdebatan yang lebih dekat dengan dunia luar.

2. Melatih Kemampuan Berdiskusi dan Berdebat,
Di Jurusan IPS nanti akan banyak terjadi perbedaan pendapat yang sangat mungkin menimbulkan perdebatan. Prinsip ilmu yang tidak pasti membuat kita dilatih untuk berpikir kritis dalam memandang suatu masalah. Kita dituntut untuk tidak langsung menerima dan menelan mentah-mentah suatu statement. Udah gitu, perdebatan yang terjadi akan lebih enak buat kita karena masalah diperdebatkan cenderung dekat dengan kehidupan sehari-hari.

3. Mempelajari Ilmu yang Mudah Diterapakan di Kehidupan Sehari-hari
Ada yang bilang IPS tuh jurusan hapalan. Wakwau, salah besar tuh. Sebenarnya semua jurusan tuh ada hapalannya dan ada juga prakteknya. Sangat disayangkan ketika masih banyak yang belum menyadari adanya praktek di Jurusan IPS. Padahal pelajaran-pelajaran seperti Ekonomi, Geografi, Sosiologi justru lebih mudah diaplikasikan di kehidupan sehari-hari. Kita bisa mencatan pengeluaran duit jajan kita. Kita juga bisa mengamati bahkan memberikan solusi pada berbagai penyimpangan sosial di sekitar kita. Yang lebih mantap nih kalau kita lagi kebetulan pulang kampung, kita bisa tuh mengamati sistem irigasi di sana. Sebenarnya sih masih banyak lagi tapi segitu dulu ajalah. Kalau masih kurang bilang aja, ntar saya kasih tahu.

4. Cocok untuk Siswa yang Ingin Aktif Berorganisasi
Masa-masa SMA bisa dibilang masa yang paling maknyus untuk belajar berorganisasi. Kenapa eh kenapa? Ini dikarenakan Masa SMA adalah masa peralihan dari remaja menuju dewasa. Sehingga kita membutuhkan bekal-bekal yang nantinya akan kita butuhkan di masa dewasa. Nah, salah satunya adalah kemampuan berorganisasi. Di Jurusan IPS beban pelajaran cenderung lebih ringan dibanding jurusan IPA yang biasanya dipenuhi banyak tugas. Bahkan saya malah meningkat prestasi akademiknya semenjak masuk Jurusan IPS dan aktif berorganisasi.

5. Prospeknya Lagi Cerah
Dahulu kala saat Orde Baru Jurusan IPA seakan lebih diunggulkan. Tahu gak kenapa? Itu dikarenakan pada masa pembangunan seperti saat itu kita memang banyak membutuhkan insinyur dan ilmuwan. Tapi sekarang, tren sudah berganti kawan. Ketika krisis global sedang melanda dunia, kita membutuhkan banyak ekonom yang punya pemikiran revolusioner. Kita juga membutuhkan banyak sosiolog untuk mengatasi berbagai permasalahan sosial di negara ini.

6. Calon Pemimpin
Di dalam Jurusan IPS, kita diajarkan menjadi seorang pemimpin yang baik dan bertanggung jawab. Guru
saya pernah bilang “Kalianlah semua yang akan memimpin orang-orang yang berasal dari jurusan-jurusan lain. Mereka memang para ilmuwan hebat, namun kita lebih hebat karena mereka akan patuh kepada kita” woow, dahsyat!!. Pada ilmu manajemen, kita diajarkan cara me-manage orang-orang pintar untuk bekerja dibawah kendali kita. Contohnya para CEO yang me-manage para Insinyur pertanian di kebun-kebun Indonesia.

Cukup jelas bukan? So, kita yang merasa berada di jurusan ini berbangga lah. Dan orang-orang di luar sana harus ikhlas merubah anggapannya kalo jurusan IPS itu gak bagus. Karena setiap jurusan mempunyai kelebihannya masing-masing. Apa jadinya negeri ini tanpa ahli-ahli sosial dan ekonomi?

Suka Duka Anak Rantau

Published April 20, 2014 by syarifahfaqoth

8fc9ef6cf9560006d261c1d6a899c92c_eagle-national-geographic

Minna-san, kali ini saya ingin berbagi mengenai suka dan duka seorang anak yang jauh dari orang tua demi mengejar cita-cita. *jengreeeng
Iya, dari judulnya aja udah kayak sinetron yee 😀
Ini pengalaman asli saya sekitar 2 tahun lalu sampai sekarang. Ya, tinggal jauuuuh dari orangtua dengan alasan ngejar cita-cita, sekolah. Asik? Iya memang sebelum saya menjalani ini semua, yang ada dipikiran saya “wah, enak banget pasti. Lepas dari pengawasan orangtua, bisa ngelakuin apapun yg saya suka, tidur bebas jam berapa aja, bangun juga semau saya.”

Yah, seperti itulah pikiran saya waktu itu. Hingga saat itu tiba. Saat di mana saya mendapat pengumuman diterima di salah satu SMA favorit di Kota saya yang kebetulan jauh dari rumah tempat saya dan orangtua tinggal. Maka setelah waktu tahun ajaran baru semakin dekat, saya berangkat meninggalkan kampung halaman menuju tempat perantauan *sinetron banget.

Memang sebenarnya tempat tinggal baru saya saat itu bukanlah tempat yang asing. Itulah tempat tinggal ayah dan ibu saya sebelum akhirnya mereka pindah karena urusan pekerjaan. Di rumah itu juga saya sempat menjalani masa-masa bayi saya selama 9 bulan, dan akhirnya ikut dibawa pindah untuk kemudian tumbuh besar di sebuah desa. Dan akhirnya saya kembali ke tempat itu.
Masa-masa awal memang menyenangkan, soalnya :

1. Uang jajan mingguan
Yang biasanya uang jajan itu dikasih per-hari, pas mau berangkat sekolah sambil bilang “Mah, uang jajan.”
Tapi sekarang beda. Uang jajan yang istilahnya dibayar di muka dan lebih gede nominalnya dibanding saat kita tinggal bareng orangtua. Pikirnya seneng aja, gak ada yang ngontrol lagi pengeluaran kita.

2. Bisa main ke mana aja
Karena yang biasa jadi tahanan rumah saat SD dan SMP, yang biasanya harus ngeluarin rayuan maut mati-matian ke orangtua buat bisa main sama temen-temen, sekarang gak perlu lagi.

3. Bisa bergadang
Tentu bisa banget. Gak ada yang ngecek lagi kamar kita malem-malem buat mastiin kita udah tidur atau belum. Dan kita gak perlu pura-pura tidur ditutupin selimut seluruh badan padahal kita masih sibuk SMS-an atau Online di bawah selimut hihihi.

Dan sebenarnya masih banyak banget seasyikan-keasyikan saat menjadi anak rantau. Tapi, eeee tapi.. *tapi saya bundar (bukan) >.<
Iya tapi di balik kesenangan di atas, ternyata lebih banyak kesakitan dan penderitaan yang tersimpan *dramaqueen

1. Telat dapet uang mingguan
Hal yang paling mengerikan dalam kehidupan anak rantau adalah ini. Dompet udah tipis dan terus mengempis sampai hati terasa teriris dan akhirnya menangis tapi jangan sampai mengemissss Nooooo…
Hingga suatu kejadian, membuat saya tersadar betapa berharganya uang Rp. 200,- . "Cuma dua ratus perak.." Itu pikiran saya dulu. Tapi, ternyata saya salah. dua ratus itu sangat berharga ketika itu. Gini ceritanya..
Pagi itu saya mau berangkat sekolah. Dan malangnya uang mingguan telat dikirim, hingga uang yang tersisa hanya cukup untuk ongkos naik angkot berangkat dan pulang sekolah *maklum saat itu saya boros banget (sekarang udah tobat). Ngga sih, gak cukup sebenarnya. Saat itu uang saya kurang 500 rupiah. Saya cari di kantong-kantong kecil tas sekolah dan alhamdulillah ketemu uang recehan. Tapi, ternyata hanya 300 rupiah. Saya kebingungan nyari 200 rupiah lagi. Sudah saya cari ke sana ke mari. Di laci, bawah kursi, saku-saku baju dan celana, lemari buku, tempat pensil.. dan tetap ga ada sepeser pun. Padahal biasanya uang-uang koin itu sering saya lihat di sekitar saya, tapi saya acuhkan karena seperti tadilah pikiran saya, "cuma segitu, buat apa?" Tapi, setelah kejadian itu saya sadar. Sekecil apapun nominalnya, uang tetaplah uang. Berharga.

2. Sakit ga ada yang ngurusin
Salah satu faktor yang bikin kita sebagai anak yang jauh dari orang tua gampang sakit adalah pola makan dan tidur kita yang gak teratur. Mentang-mentang gak ada yang ngatur-ngatur lagi, makan seenaknya. Tidur seenaknya. Dan malang nya ketika sakit kita gak ada yang ngurusin, secara orang tua kita jauuuh, kawan. Itu menderita banget, asli. Cobain deh!

3. Sering kesiangan
Nah sama aja kyk yang di atas. Gara-gara tidur seenaknya dan gak ada yang bangunin, intensitas kesiangan kita makin menjadi.

4. Gak ada yang bantuin nyiapin keperluan kita
Kayak angka 1 deh pokoknya. Nyuci baju sendiri, nyuci piring sendiri, masak sendiri *dan kebanyak cuma masak mie instant sama telor ceplok, dan semuanya sendiri.

5. Disiksa Rindu
Ini dia puncaknya. Paling menyakitkan dan menyesakkan. Lebih sakit dan lebih nyesek dibanding jadi korban PHP atau gagal dapet arisan mingguan. Rindu orangtua, terutama mama (menurut saya). Bayangin lah, kita yang biasanya apa-apa mama, ini-itu mama, curhat ke mama, minta apapun ke mama.. Sekarang jauh, ya rindu banget. Melebihi rindu istrinya bang toyib sama bang toyib yg gak pulang-pulang -_-

Dan yaa masih sangat banyak lagi. Mungkin bisa kalian rasain sendiri setelah kalian suatu saat pergi merantau juga kyk saya dan bang toyib -___-
dan mungkin kalo mereka yang senasib sama saya bakalan nyengir baca postingan ini, heee *nyengir berjamaah.

Tapi, inilah hidup. Ada suka dan ada duka. Ini semua adalah bagian dari perjuangan untuk mendapatkan kebahagiaan suatu hari nanti. Kebahagiaan saat melihat orangtua tercinta menangis. Ya, menangis bahagia karena bangga melihat kita yang akhirnya bisa membuktikan bahwa kita mampu menjadi apa yang mereka mau, bahwa perjuangan mereka selama ini untuk kesuksesan anak-anaknya tidak sia-sia. *keprookkk dulu

Oke, saya cuma mau bilang sesuatu meskipun saya tahu orangtua saya gak bakalan baca postingan ini.
Mama, bapak, rindu ini selalu menyapa setiap detik. Semoga senantiasa sehat di sana ❤ Aamiin.

Refrain Lyric (Afgan) Ost. Refrain

Published April 20, 2014 by syarifahfaqoth

Image0634

If I wanna sing of everything that we have been through, i’ll run out of words
But if I could sing of just one thing, It’d be your melody

If I wanna write a story about you and me, would you believe me, I’ll ran out of pages
But if I could write of just one moment, It would be forever

Maybe I felt it all alone
Maybe I was afraid
To find that you’re where I belong
And say the words i left unsaid

Now I try to deny this feeling
Who am I kidding?
Who are you kidding?
You’re the song that won’t stop playing
You’re the part that keeps repeating
Sing it all over again
Like a refrain
You’re my refrain

Maybe I felt it all alone
Maybe I was afraid
To find that you’re where I belong
And say the words I left unsaid
Now I try to deny this feeling
Who am I kidding?
Who are you kidding?
You’re the song that won’t stop playing
You’re the part that keeps repeating
Sing it all over again

Now I try to deny this feeling
Who am I kidding?
Who are you kidding?
You’re the song that won’t stop playing
You’re the part that keeps repeating
Sing it all over again
Like a refrain
You’re my refrain

Ketika Hujan Bercerita

Published April 20, 2014 by syarifahfaqoth

6577888375_6c505b0d57_z_large

Ketika sang awan memuntahkan butiran-butiran air ke permukaan bumi..
Dingin, sudah tentu terasa memeluk seluruh tubuh.
Saat ini hanya duduk di depan jendela kamar, menyaksikan indahnya Karunia Tuhan.
Terbersit rasa rindu akan masa-masa kecil. Nikmatnya guyuran hujan yang jatuh deras ke seluruh tubuh.
Berlari-lari mempermainkannya bersama teman-teman. Hingga omelan Ibu tak dihiraukan.
Kini.. jelas berbeda. Hanya tersenyum geli saat mengingatnya. “Nakal sekali” bisik dalam hati.

Ketika sang hujan menyapa..
Ingin sekali ku titipkan salam rinduku untuk mereka, sang gerombolan masa-masa indah di waktu kecil.
Juga kepada teman-teman sepermainan yang sekarang entah di mana dan bagaimana kabarnya.
Ingin sekali kembali ke masa itu. Menari di tengah derasnya hujan, atau sekedar berlari riang menyambut kedatangan pelangi.

30600 detik

Published April 20, 2014 by syarifahfaqoth

secret-admirer21

Allah menempatkanmu di sini, untuk 30600 detik setiap harinya.

Maaf untuk selalu mencuri pandang dari sudut mata. Maaf untuk kelancangan membisikan kata-kata harapan dalam hati bahkan berlama-lama menaruh mata saat melihat mu tertunduk.

30600 detik dalam setiap hari, terima kasih untuk selalu menjadi salah satu sumber semangat di kala rasa malas datang dan rasa kantuk memaksa untuk tertidur di atas meja.

30600 detik dalam setiap hari, terima kasih karena secara tidak langsung selalu menjadi salah satu motivator untuk melakukan semuanya dengan lebih dan lebih baik lagi.
Juga untuk membuat semakin semangat untuk meningkatkan prestasi meskipun dengan alasan “gengsi” jika prestasi ini ada di bawahmu.

Terima kasih untuk 30600 detik setiap harinya.
Maaf karena secara diam-diam menjadikanmu sebagai penyemangat..

Kisah Lama yang Berharga

Published April 20, 2014 by syarifahfaqoth

flor11

Tiba-tiba malam ini teringat suatu kisah yang dikirimkan seseorang melalui sms dua tahun lalu. Kisah dimana ada seseorang murid yang disuruh gurunya memetik bunga yang terindah dalam suatu taman..
guru: “hay muridku.. bawalah kepadaku bunga terindah yang ada di dalam taman ini.. tapi dengan suatu syarat yaitu engkau jangan pernah lagi kembali kebelakang, kau hanya perlu berjalan lurus kedepan tanpa memlihat kebelakang..”
murid: ” baik guru ”
lalu murid itu berjalan kesebuah taman , diawal taman tersebut ia melihat bunga yang lumayan indah, berwarna merah merona.. tetapi dia memutuskaan untuk tetap berjalan dengan pemikiran bahwa didepan nanti akan lebih banyak bunga-bunga yang lebih indah..
tiba dia melihat bunga kedua,.. warnanya putih begitu indah, tetapi apa yang ia lakukan.. ia hanya melihatya sebentar dan lalu pergi lagi melanjutkan perjalananya kearah tengah taman.. dengan pemikiran bahwa didepan masih banyak bunga yang lebih indah..
setelah lama ia berjalan.. dia mennemukan bunga kembali.. tetapi tak seindah bunga yang sebelumnya,, dia pun melanjutkan perjalananya hingga ia menemukan bunga terakhir yang ternyata bunga itu adalah bunga paling jelek yang ada di taman itu… dia menyesali semua tindakanya..
lalu dia kembali kepada gurunya dengan tidak membawa bunga apapun..
sang guru bertanya ” manakah bunga yang ku suruh kau untuk membawanya yang terindah kepadaku?”
murid menjawab” maaf guru, ( dia menceritakan yang telah ia alami) ..
lalu gurunya menasehatinya:
” hai mmuridku, hendaknya engkau jangan menjadi orang yang serakah, orang yang selalu tidak pernah puas, orang yang tidak mempertimbangkan segala sesuatu yang mngkin akan terjadi,, keegoisanmmu yang membuatmu salah menentukan pilihan, hal itu akan membawamu kedalam keterpurukan… jika kau bersikap lebih BIJAKSANA DALAM MENENTUKAN PILIHAN pasti kamu akan mendapatkan yang terbaik..”
Bagaimana sekarang kawan? Apakah kamu sudah bisa mengaplikasikan kisah ini dalam hidupmu? Sudahkah kamu menemukannya? Ku harap begitu.
Semoga kamu bisa membaca ini, bisa kembali mengingat kisah yang kamu kirimkan ini. Bukan mengingat tentang bunga yang kamu tinggalkan untuk menemukan bunga yang lebih indah waktu itu. Bukan, sama sekali bukan itu. Yang harus kamu ingat adalah pesan yang terkandung dalam kisah ini. Hidup ini pilihan kawan, pilihlah yang terbaik. Jika sudah mendapatkannya, jaga ia. Semoga berbahagia dengan bunga indahmu kawan 🙂 Allah melindungi kalian 🙂